Laman

Selasa, 17 April 2012

SEJARAH BERDIRINYA MUSEUM SRI BADUGA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) mengawali pemerintahan zaman Pajajaran, yang memerintah selama 39 tahun (1482 – 1521). Pada masa inilah pakuan mencapai puncak perkembangannya.
Dalam prasasti batu tulis diberikan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima tahta Kerajaan Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar  Prabu Guru Dewa Pranata. Yang kedua ketika menerima tahta kerajaan sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda – Galuh dan dinobati dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di kerajaan Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
1.2    Batasan Masalah
1.    Bagaimana Sejarah berdirinya museum Sri Baduga ?
2.    Bagaimana kebijakan dalam kehidupan sosial ?
3.    Bagaimana peristiwa-peristiwa yang terjadi ?
4.    Apa yang dimaksud dengan pustaka negara kereta bumi parwa t sarga 2 ?
1.3    Tujuan Penulis
Tujuan yang ingin di capai dalam penulisan karya tulis ini adalah :
1.    Mengetahui sejarah berdirinya museum Sri Baduga
2.    Mengetahui kebijakan dalam kehidupan sosial
3.    Mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi
4.    Megetahui pustaka negara kereta bumi parwa 1 sarga 2



1.4    Metode dan Teknik Penelitian
Metode dan teknik penelitian yang digunakan oleh penulis :
1.    Observasi
Observasi adalah data yang diperoleh dengan cara langsung dengan cara langsung mengunjungi daerah Museum Sri Baduga Bandung.
2.    Wawancara
Wawancara adalah penulis mengadakan tanya jawab dengan tokoh masyarakat guna mendapat data-data yang sesuai.
3.    Studi pustaka
Studi pustaka adalah penelitian dengan cara membaca buku-buku yang ada hubungannya dengan karya tulis ini.
1.5    Sistematika Penulisan
Karya tulis ini terdiri dari tiga bab, pada bab I tentang latar belakang, batasan masalah, tujuan penulisan, metode dan teknik penelitian. Bab II tentang Sejarah Berdirinya Museum Sri Baduga dan Bab III kesimpulan dan saran.

BAB II
SEJARAH BERDIRINYA
MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG

2.1    Sejarah Berdirinya Museum Sri Baduga
Museum Sri Baduga, merupakan salah satu museum pendidikan yang ada dikota Bandung. Museum ini terletak di jalan BKR No. 185 Tegallega, berhadapan langsung dengan Monumen Lautan Api. Museum Sri Baduga ini dirintis sejak tahun 1974 yang baru diresmikan pada 5 juli 1980 oleh mentri pendidikan dan kebudayaan pada saat itu Dr. Daud Yusuf.
Nama “Sri Baduga” yang diambil dari nama seorang raja sunda yang bertahta di pakwan pajajaran sekitar abad ke-16 Masehi. Nama raja tersebut tertuang dalam prasasti Batutulis sebagai SRI BADUGA MAHARAJA RATU HAJI PAKWAN PAJAJARAN SRI RATU DEWATA.
2.2    Kebijakan Dalam Kehidupan Sosial
Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peninggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):
Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.
Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan "dasa", "calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".
Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegas mengamalkan peraturan dewa.
Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti", "panggeureus reuma".
Pustaka Ranyaranya I Bhumi Nusantara 11/2 mengungkapkan bahwa orang sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja) :
"Di medan perang Bubat, ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.
Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.
Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemasyurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu, nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda".
2.3    Peristiwa-peristiwa Pada Masa Pemerintahan Carita Parahiyangan
Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :
"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa".
(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).
2.4    Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2.
Pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)]

BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
1.    Museum Sri Baduga terletak di Tegallega, Monumen Lautan Api, Bandung Jawa Barat.
2.    Museum Sri Baduga di rintis sejak tahun 1974, diresmikan pada 5 Juli 1980 oleh mentri pendidikan dan kebudayaan pada saat itu Dr. Daud Yusuf
3.2    Saran-saran
Sebagai generasi muda kita sudah selayaknya untuk turut memelihara dan melestarikannya. Sebagai tanda bahwa bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa yang sudah maju tentang kebudayaan. Pemerintah daerah dan masyarakat sekitar museum Sri Baduga lebih di tingkatkan kerja sama dalam pemeliharaannya.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Sri_Baduga_Maharaja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar